<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Belajar Harus Menantang, Tantangan Harus Menyenangkan</title>
	<atom:link href="http://azizou.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://azizou.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Fri, 05 Dec 2008 06:46:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='azizou.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Belajar Harus Menantang, Tantangan Harus Menyenangkan</title>
		<link>http://azizou.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://azizou.wordpress.com/osd.xml" title="Belajar Harus Menantang, Tantangan Harus Menyenangkan" />
	<atom:link rel='hub' href='http://azizou.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Dokter Limaribuan</title>
		<link>http://azizou.wordpress.com/2008/12/04/socio-cultural/</link>
		<comments>http://azizou.wordpress.com/2008/12/04/socio-cultural/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Dec 2008 07:54:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>azizou</dc:creator>
				<category><![CDATA[Socio-Cultural]]></category>
		<category><![CDATA[dokter]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://azizou.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[;Tanya saja pada orang-orang di kota Ponorogo, sebuah kota kecil di selatan Madiun, dari kaum menengah ke bawah hingga jajaran top Pemerintah Daerah tentang sosok ini. Dokter Sunarno namanya, bisa dibilang mulai dari tukang becak, tukang ojek, pegawai negeri, pedagang sayur, guru bantu, hingga mahasiswa pun akan tahu dengan sosok satu ini. Dokter lima ribuan, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=azizou.wordpress.com&amp;blog=5735333&amp;post=24&amp;subd=azizou&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font>;Tanya saja pada orang-orang di kota Ponorogo, sebuah kota kecil di<br />
selatan Madiun, dari kaum menengah ke bawah hingga jajaran top<br />
Pemerintah Daerah tentang sosok ini. Dokter Sunarno namanya, bisa<br />
dibilang mulai dari tukang becak, tukang ojek, pegawai negeri,<br />
pedagang sayur, guru bantu, hingga mahasiswa pun akan tahu dengan<br />
sosok satu ini. Dokter lima ribuan, begitulah ia lebih sering dikenal.</p>
<p>Konon dokter yang lumayan agamis ini dikenal karena tangan dinginnya<br />
dalam menangani pasien-pasiennya.</p>
<p>&#8220;Yen mboten mriki, mboten sumerap bu, ten mriki kulo sampun cocok*&#8221;,<br />
(Kalau nggak kesini nggak cocok bu, kalau disini saya sudah cocok)ujar<br />
salah seorang ibu tua kepada ibu saya.</p>
<p>Bahkan karena rumahnya bersebelahan dengan pemakaman umum, sering ia<br />
jadi bahan candaan ibu-ibu, &#8220;Itu dokter apa dukun ya, kok manjur banget.&#8221;</p>
<p>Namun bukan itu intinya, beliau menerapkan tarif flat alias tetap,<br />
semua sama 5000 perak. Dengan uang hanya segitu, apalagi di masa<br />
ekonomi masih belum benar-benar pulih, membuat Dr. Narno betul-betul<br />
menjadi jujugan orang kecil yang sedang sakit. Kalaupun ada biaya<br />
tambahan, itu biasanya hanya bagi mereka yang pengin suntik. &#8220;sekedar<br />
ongkos ganti jarum suntiknya&#8221; begitu kata mereka.</p>
<p>Dengan hanya berbekal lima ribu, mereka sudah mendapat obat satu pak<br />
kecil, entah obat apa, karena konon obat-obat tersebut sudah disiapkan<br />
sebelum pak Dokter menerima pasiennya. Begitu pasien datang, mereka<br />
ditanya sakitnya apa, lalu tinggal dikasih obatnya, ataupun kalau<br />
tambah suntik, ya tinggal tambah ongkos jarum suntuik. Meski terkesan<br />
aneh karena seperti tak ubahnya toko obat, namun akhirnya bisa<br />
dimaklumi memang karena yang datang umumnya orang-orang kecil dengan<br />
penyakit khas orang kecil, pusing, diare, batuk, pilek, demam, dan<br />
semacamnya. Namun yang lebih aneh lagi, hanya dengan obat-obatan yang<br />
terkesan &#8220;asal&#8221; begitu, hampir semua pasiennya sembuh, dan itulah<br />
kenapa mereka sering kembali lagi apabila kelak mereka sakit.<br />
&#8220;Pengaruh sugesti&#8221;, demikian pikir saya.</p>
<p>&#8220;Saya sudah cocok berobat di sini, kalau nggak kesini biasanya nggak<br />
sembuh-sembuh bu, kalo kesini, satu dua hari lah kok ya sembuh..!!&#8221;<br />
tutur seorang remaja putri menambahkan.</p>
<p>Pada mulanya saya kurang percaya pada cerita ibu saya. Kebetulan ibu<br />
saya sudah pernah berobat sekitar 4 tahun sebelumnya. Sebagai<br />
mahasiswa apalagi masih mahasiswa baru, apalagi masih dalam kondisi<br />
kritis-kritisnya dong, atau lebih tepatnya sok kritis, atau sok<br />
mahasiswa lah, harus dbuktikan, pikirku</p>
<p>Akhirnya mau tidak mau saya pun harus membuktikan sendiri kebenaran<br />
cerita tersebut.</p>
<p>Bermula dari diri saya yang jatuh sakit sewaktu pulang kampung. Saat<br />
itu masih bulan puasa, sekitar H minus 4, saya pulang. Entah kenapa di<br />
rumah saya langsung jatuh sakit, sering buang air besar, dan itu pun<br />
dalam bentuk cair, istilahnya diare. Hingga dalam sehari, terkadang<br />
saya bisa sekitar 4 hingga 5 kali, padahal sebelum pulang saya sehat<br />
wal afiat.</p>
<p>&#8220;Tu karena tahu mau pulang, di Malang nggak ada yang ngurusin kalo<br />
sakit, jadi sakitnya ditahan sampai Ponorogo, he..he..he.. &#8221; seloroh<br />
kakak saya.</p>
<p>&#8220;Nggak, itu mungkin gara-gara kamu yang mudik malam-malam, pasti<br />
karena masuk angin saat perjalanan.&#8221;, ibu saya coba membela.</p>
<p>Entah apapun alasannya yang jelas akhirnya saya pun dibawa ke dokter<br />
Ani, dokter langganan keluarga kami. Namun bukan dokter Narno ini,<br />
karena kebetulan saat itu belum terpikir untuk membawa ke sana. Oleh<br />
dokter Ani, saya didakwa terkena diare, sehingga oleh dokter<br />
dianjurkan untuk tidak melanjutkan puasa hingga dirasa sembuh.<br />
Disayangkan memang, padahal sudah hampir lebaran, namun mau dikata apa<br />
lagi, saat itu badan sudah benar-benar lemas.</p>
<p>Sekitar dua hari kemudian, obat dari dokter Ani sudah habis, namun<br />
badan ternyata belum sembuh benar, meskipun sudah agak mendingan. Pagi<br />
itu kami kembali lagi ke dokter Ani, sekedar minta obat lagi, Namun<br />
apa dikata, di depan pagar, terpampang kertas besar seukuran A3<br />
bertulis, &#8220;Tutup, libur lebaran, buka lagi tanggal 11 Nopember&#8221;.<br />
Rencana minta obat lagi akhirnya tidak jadi. Padahal siang itu, kami<br />
sekeluarga harus pergi ke Surabaya, mudik ke tempat nenek dan sanak<br />
saudara yang lain.</p>
<p>Namun untungnya, saat tiba di rumah, ibu segera ingat, &#8220;Oh iya, ke<br />
dokter Narno saja, waah kenapa nggak dari kemarin-kemarin ke dokter<br />
narno.., ayo ke sana..!!&#8221;.</p>
<p>Akhirnya, jadilah, pagi itu masih sekitar jam setengah enam, kami<br />
berangkat lagi ketempat praktek dokter Narno. &#8220;Ayo jangan siang-siang,<br />
ntar keburu ramai loh, moga-moga aja dokternya nggak mudik&#8221;. Dan benar<br />
saja, jam di HP masih belum menunjukkan pukul 6 namun suasana sudah ramai.</p>
<p>&#8220;Wah, kok sudah ramai begini mi, ntar bisa-bisa lama nih..??&#8221;, tanyaku<br />
pada ibu saat turun dari kendaraan.</p>
<p>&#8220;Ah tenang saja, dokter ini, kalo menangani cepat kok, nggak sampai<br />
lima menit dah selesai. Dah deh, kamu ntar pasti kaget saking<br />
cepetnya.&#8221;, Jawab ibuku yang makin membuat saya semakin penasaran</p>
<p>Dari perawakan, dan penampilan mereka yang datang, memang kelihatan<br />
kalau pada umumnya mereka bisa dibilang bukan dari golongan orang yang<br />
mampu. Barangkali hanya kami berdua dan seorang ibu-ibu yang<br />
berpakaian rapi di ruang tunggu. Meskipun sudah ramai, namun dokter<br />
masih belum buka juga. &#8220;Masih nyiapkan obat&#8221;, begitu kata pak tua<br />
berpeci hitam di antrian pertama.</p>
<p>Ruang tunggu pasien itu terkesan sederhana, sekitar 4&#215;4 meter. Tidak<br />
ada televisi ataupun galon air minum seperti sebelum-sebelumnya saya<br />
ke dokter praktek, apalagi suster atau petugas yang mendata pasien.<br />
Hanya kursi yang berjajar melingkari ruang tersebut. Di<br />
tengah-tengahnya ada sebuah meja dengan beberapa brosur iklan dan<br />
info-info dari produk obat tertentu diatasnya. Di dinding dan<br />
jendelanya, tertempel stiker Pilkada. Ya, dokter ini juga pernah<br />
dicalonkan menjadi wakil Bupati dalam Pilkada terakhir di kota kami,<br />
namun akhirnya hanya berhasil memperoleh urutan ke 4. Kalah dengan<br />
calon yang sudah berpengalaman sebagai &#8220;Mantan lurah&#8221;, begitu kata<br />
orang-orang.</p>
<p>&#8220;Kalau dulu waktu mama kesini, waktu kakakmu masih SMA, disini masih<br />
lima ribuan, nggak tahu kalau sekarang sudah naik, paling sekitar 10<br />
ribu.&#8221;, ujar ibu saya di ruang tunggu.</p>
<p>&#8220;Ya mi, apalagi kan BBM juga dah beberapa kali naik, obat-obatan pun<br />
juga naik tentu&#8221;, ujarku.</p>
<p>Sambil menunggu, ibu saya ngobrol dengan seorang pasien di sebelahnya.<br />
Sementara saya sendiri, namun karena malas bicara, apalagi masih ada<br />
sekitar 12 orang yang antri, &#8220;Lama..&#8221;, pikirku, kubaca buku yang<br />
kubawa dari rumah. Tak sampai 15 menit, pintu sudah terbuka. Rambutnya<br />
yang sudah mulai kelihatan memutih menunjukan sosok yang sudah berumur.</p>
<p>Bapak berpeci hitam yang tadi kemudian masuk, &#8220;Nah, ini nih, lihat<br />
saja, nggak sampai lima menit dia pasti sudah keluar&#8221;, kata ibu saya.<br />
Saya tidak terlalu memperhatikan karena kurang begitu percaya. Ah<br />
masak sih secepat itu.</p>
<p>&#8220;Nah tuh kan..&#8221;, kata ibu saya. Saya langsung tertegun karena tak<br />
sampai semenit, orang tadi sudah keluar dengan sebungkus obat di<br />
tangannya. Kontan saya heran, baru pertama kali ini, saya melihat<br />
orang berobat ke dokter sedemikian cepatnya.</p>
<p>Dasar sok mau tahu, saya pun coba-coba menghitung, berapa lama sih<br />
waktu seorang pasien di dalam ruangan. Saat pasien ketiga masuk, Tit,<br />
saya jalankan stopwatch di HP saya. Tit, saya hentikan stop watch saat<br />
pasien tadi sudah keluar. Saya jadi tercengang melihat angka fantastis<br />
di layar HP, Satu Menit Tiga Detik&#8230;!!!!. Pasien-pasien selanjutnya<br />
semakin membuatku takjub. Hanya dua orang yang agak lama di dalam,<br />
karena pasien tersebut minta disuntik.</p>
<p>&#8220;Wah kalau begini nggak sampai lama bisa selesai nih..&#8221;, ujarku pada<br />
ibu. Dan benar saja, tak sampai lima belas menit kami pun sudah masuk<br />
di dalam. Di ruang praktek dokter satu ini, tangan-tangannya cekatan,<br />
Beliau memasang tensimeter, namun hanya dipompanya sebentar, saya<br />
yakin ia memang tidak mengukur tekanan darah saya. Beliau lalu memijit<br />
lenganku, sambil bertanya, &#8220;Sakitnya apa ini..??&#8221;.</p>
<p>&#8220;Sepertinya diare dok, kemarin sudah ke dokter lain, tapi belum<br />
sembuh. Kalau disuntik gimana dok..??&#8221;, jawab ibu saya. Mendengar<br />
kata-kata suntik, membuatku dag..dig..dug juga.</p>
<p>&#8220;Badannya lemes, nggak baik kalau disuntik, ini obat saja.&#8221;, Jawab<br />
dokter kontan membuat saya lega. Meski laki-laki, namun terkadang<br />
keder juga sih kalau membahas masalah satu ini.</p>
<p>Setelah meneyelesaikan pembayaran dan obat, kami pun keluar. Tak<br />
sampai lima menit memang, dan di luar ruang praktek, saya hampir<br />
tertawa juga. Ada juga ya, dokter seperti itu. Diagnosanya sangat<br />
simpel, bahkan menurut saya itu bukan sebuah diagnosa. Apalagi<br />
kejadian tentang tensimeter tersebut, barangkali hanya sekedar<br />
psikologis bagi pasien bahwa dia memang benar-benar diperiksa. Apalagi<br />
psikologinya orang desa, kalau nggak begitu, belum ke dokter katanya.<br />
Ada-ada saja.</p>
<p>Dokter sunarno, bagi kota kami, barangkali lebih dari sekedar dokter.<br />
Benar dugaan ibu saya, biayanya sekarang naik jadi 10.000, namun tetap<br />
saja, biaya tersebut sudah tergolong murah, disaat banyak dokter umum<br />
lain, mematok tarif mahal, Dokter praktek satu ini tetap dengan<br />
pendiriannya. Tarif inilah yang membuat dokter ini tetap laris dan<br />
disukai rakyat kecil, namun juga ini pula barangkali yang membuatnya<br />
terkadang diprotes rekan-rekan seprofesinya.</p>
<p>Namun tak hanya itu, ditambah tangan dinginnya, yang konon katanya<br />
maksimal 2 hari biasanya sudah sembuh. Entah benar tidaknya, namun<br />
obat dari Pak Dokter ini belum sempat saya minum, namun saya memang<br />
benar-benar sudah sembuh. Terakhir kali saya minum hanya sekali<br />
sekitar keesokan harinya di tempat nenek, di surabaya. Saya jadi heran<br />
dan bertanya-tanya, ini apa gara-gara habisdari pak Narno, ataukah<br />
dari obat Dokter Ani sebelumnya&#8230;?? wallahu `alam yang jelas saya sembuh.</p>
<p>Tak banyak memang dokter yang seperti beliau. Ketika di satu sisi,<br />
dokter seolah menjadi label yang &#8220;waah&#8221;, hanya orang-orang berada saja<br />
yang mampu ke sana, Dokter Narno telah mengabdikan dirinya sebagai<br />
Dokter Spesialis Rakyat Kecil. Membuatnya disukai dan dicintai banyak<br />
kalangan, menjadi jujugan rakyat kecil yang sakit. Andaikan saja semua<br />
dokter seperti beliau, barangkali Eko Prasetyo tak perlu menulis buku<br />
&#8220;Orang Miskin Dilarang Sakit&#8221;. Ummat bisa lebih sehat, termasuk juga<br />
kita berpikir sehat pula. Bahwa uang bukanlah segalanya, Namun<br />
kebahagiaan lah karena bisa berbagi pada sesama.</p>
<p>Jika orang berpikir mungkinkah sosok seperti Dokter Sunarno ini bisa<br />
kaya dengan lima ribu per pasien, maka jawabnya adalah Ya. Beliau<br />
sudah naik haji, beliau punya rumah yang meski sederhana namun bagus,<br />
beliau juga punya mobil kijang meski tahun 90-an, terparkir di<br />
garasinya. Namun saya rasa bukan itu alasannya, andaikan ia ingin<br />
lebih dari itu, saya rasa beliau pun mampu. Namun tentulah seberapa<br />
besar uang tersebut, ia tidak akan mampu mengganikan kebahagiaan batin<br />
untuk membantu mereka yang terpinggirkan. Kebahagiaan menghadapi<br />
rakyat kecil, untuk membuat mereka mampu tersenyum puas dari sakitnya.<br />
Barangkali bukan karena besarnya uang tersebut, namun karena berkah<br />
dari rizkinya.</p>
<p>Wallahu&#8217;alam, Dalam hati saya berharap, semoga Allah memanjangkan<br />
umurnya, meridloi pekerjaannya, memberkahi rezekinya. Dan semoga saja,<br />
akan banyak lagi muncul dokter-dokter lain seperti beliau.</p>
<p>Dokter Sunarno, tarifnya sudah naik menjadi Rp.10.000, namun entah<br />
kenapa kami masih tetap lebih suka menyebutnya sebagai Dokter lima<br />
ribuan&#8230;<br />
</font></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/azizou.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/azizou.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/azizou.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/azizou.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/azizou.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/azizou.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/azizou.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/azizou.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/azizou.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/azizou.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/azizou.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/azizou.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/azizou.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/azizou.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=azizou.wordpress.com&amp;blog=5735333&amp;post=24&amp;subd=azizou&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://azizou.wordpress.com/2008/12/04/socio-cultural/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/54338deafac61e2e083bbca11aef1dbb?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">azizou</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Windows 7 Melenggang Januari 2009</title>
		<link>http://azizou.wordpress.com/2008/12/04/windows-7-melenggang-januari-2009/</link>
		<comments>http://azizou.wordpress.com/2008/12/04/windows-7-melenggang-januari-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Dec 2008 07:04:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>azizou</dc:creator>
				<category><![CDATA[Computer & IT]]></category>
		<category><![CDATA[Microsoft]]></category>
		<category><![CDATA[Windows 7]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://azizou.wordpress.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Setelah beberapa kali beredar kabar mengenai kepastian rilis Window 7, tersiar kabar seri baru Windows tersebut akan dirilis pada awal tahun 2009 mendatang. Kepastian peluncuran Windows 7 ini diungkapkan sendiri oleh Microsoft. Perusahaan piranti lunak itu, memilih tanggal 13 Januari 2009 sebagai awal penjualan Windows 7, meski untuk sementara masih dalam bentuk versi beta, sebelum [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=azizou.wordpress.com&amp;blog=5735333&amp;post=18&amp;subd=azizou&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://azizou.files.wordpress.com/2008/12/windows71.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-22" title="windows71" src="http://azizou.files.wordpress.com/2008/12/windows71.jpg?w=500" alt="windows71"   /></a>Setelah beberapa kali beredar kabar mengenai kepastian rilis Window 7, tersiar kabar seri baru Windows tersebut akan dirilis pada awal tahun 2009 mendatang.</p>
<p>Kepastian peluncuran Windows 7 ini diungkapkan sendiri oleh <a href="http://www.microsoft.com">Microsoft</a>. Perusahaan piranti lunak itu, memilih tanggal 13 Januari 2009 sebagai awal penjualan Windows 7, meski untuk sementara masih dalam bentuk versi beta, sebelum akhirnya dirilis secara final.</p>
<p>Peluncuran Windows 7 ini tentu akan dinanti oleh banyak pihak. Pasalnya, sempat dikabarkan bahwa software anyar ini tertunda, karena menunggu jeda yang pas dengan Windows Vista, yang gagal di pasaran.</p>
<p>&#8220;Saya tentu sangat menunggu final Windows 7 itu dirilis. Bisa jadi software tersebut akan jauh lebih baik ketimbang Vista,&#8221; ujar analis industri teknologi Peter O&#8217;Kelly, seperti yang dikutip Internetnews, Kamis (4/12/2008).</p>
<p>Nantinya, Microsoft mengklaim Windows 7 akan lebih cepat dan hanya memakan sedikit memori dalam bekerja. Inilah hal yang dianggap dapat menutupi kelemahan Vista yang dikenal sebagai sistem operasi yang membutuhkan konfigurasi hardware yang mahal, dibandingkan pendahulunya, Windows XP.</p>
<p>Fitur-fitur Windows 7 akan menyederhanakan pekerjaan yang kerap membuat kesal pengguna komputer. Misalnya, fitur Home Group membuat pengguna dapat dengan cepat terkoneksi dengan komputer lain dan peranti keras lainnya. (okezone)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/azizou.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/azizou.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/azizou.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/azizou.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/azizou.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/azizou.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/azizou.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/azizou.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/azizou.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/azizou.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/azizou.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/azizou.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/azizou.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/azizou.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=azizou.wordpress.com&amp;blog=5735333&amp;post=18&amp;subd=azizou&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://azizou.wordpress.com/2008/12/04/windows-7-melenggang-januari-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/54338deafac61e2e083bbca11aef1dbb?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">azizou</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://azizou.files.wordpress.com/2008/12/windows71.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">windows71</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
