;Tanya saja pada orang-orang di kota Ponorogo, sebuah kota kecil di
selatan Madiun, dari kaum menengah ke bawah hingga jajaran top
Pemerintah Daerah tentang sosok ini. Dokter Sunarno namanya, bisa
dibilang mulai dari tukang becak, tukang ojek, pegawai negeri,
pedagang sayur, guru bantu, hingga mahasiswa pun akan tahu dengan
sosok satu ini. Dokter lima ribuan, begitulah ia lebih sering dikenal.
Konon dokter yang lumayan agamis ini dikenal karena tangan dinginnya
dalam menangani pasien-pasiennya.
“Yen mboten mriki, mboten sumerap bu, ten mriki kulo sampun cocok*”,
(Kalau nggak kesini nggak cocok bu, kalau disini saya sudah cocok)ujar
salah seorang ibu tua kepada ibu saya.
Bahkan karena rumahnya bersebelahan dengan pemakaman umum, sering ia
jadi bahan candaan ibu-ibu, “Itu dokter apa dukun ya, kok manjur banget.”
Namun bukan itu intinya, beliau menerapkan tarif flat alias tetap,
semua sama 5000 perak. Dengan uang hanya segitu, apalagi di masa
ekonomi masih belum benar-benar pulih, membuat Dr. Narno betul-betul
menjadi jujugan orang kecil yang sedang sakit. Kalaupun ada biaya
tambahan, itu biasanya hanya bagi mereka yang pengin suntik. “sekedar
ongkos ganti jarum suntiknya” begitu kata mereka.
Dengan hanya berbekal lima ribu, mereka sudah mendapat obat satu pak
kecil, entah obat apa, karena konon obat-obat tersebut sudah disiapkan
sebelum pak Dokter menerima pasiennya. Begitu pasien datang, mereka
ditanya sakitnya apa, lalu tinggal dikasih obatnya, ataupun kalau
tambah suntik, ya tinggal tambah ongkos jarum suntuik. Meski terkesan
aneh karena seperti tak ubahnya toko obat, namun akhirnya bisa
dimaklumi memang karena yang datang umumnya orang-orang kecil dengan
penyakit khas orang kecil, pusing, diare, batuk, pilek, demam, dan
semacamnya. Namun yang lebih aneh lagi, hanya dengan obat-obatan yang
terkesan “asal” begitu, hampir semua pasiennya sembuh, dan itulah
kenapa mereka sering kembali lagi apabila kelak mereka sakit.
“Pengaruh sugesti”, demikian pikir saya.
“Saya sudah cocok berobat di sini, kalau nggak kesini biasanya nggak
sembuh-sembuh bu, kalo kesini, satu dua hari lah kok ya sembuh..!!”
tutur seorang remaja putri menambahkan.
Pada mulanya saya kurang percaya pada cerita ibu saya. Kebetulan ibu
saya sudah pernah berobat sekitar 4 tahun sebelumnya. Sebagai
mahasiswa apalagi masih mahasiswa baru, apalagi masih dalam kondisi
kritis-kritisnya dong, atau lebih tepatnya sok kritis, atau sok
mahasiswa lah, harus dbuktikan, pikirku
Akhirnya mau tidak mau saya pun harus membuktikan sendiri kebenaran
cerita tersebut.
Bermula dari diri saya yang jatuh sakit sewaktu pulang kampung. Saat
itu masih bulan puasa, sekitar H minus 4, saya pulang. Entah kenapa di
rumah saya langsung jatuh sakit, sering buang air besar, dan itu pun
dalam bentuk cair, istilahnya diare. Hingga dalam sehari, terkadang
saya bisa sekitar 4 hingga 5 kali, padahal sebelum pulang saya sehat
wal afiat.
“Tu karena tahu mau pulang, di Malang nggak ada yang ngurusin kalo
sakit, jadi sakitnya ditahan sampai Ponorogo, he..he..he.. ” seloroh
kakak saya.
“Nggak, itu mungkin gara-gara kamu yang mudik malam-malam, pasti
karena masuk angin saat perjalanan.”, ibu saya coba membela.
Entah apapun alasannya yang jelas akhirnya saya pun dibawa ke dokter
Ani, dokter langganan keluarga kami. Namun bukan dokter Narno ini,
karena kebetulan saat itu belum terpikir untuk membawa ke sana. Oleh
dokter Ani, saya didakwa terkena diare, sehingga oleh dokter
dianjurkan untuk tidak melanjutkan puasa hingga dirasa sembuh.
Disayangkan memang, padahal sudah hampir lebaran, namun mau dikata apa
lagi, saat itu badan sudah benar-benar lemas.
Sekitar dua hari kemudian, obat dari dokter Ani sudah habis, namun
badan ternyata belum sembuh benar, meskipun sudah agak mendingan. Pagi
itu kami kembali lagi ke dokter Ani, sekedar minta obat lagi, Namun
apa dikata, di depan pagar, terpampang kertas besar seukuran A3
bertulis, “Tutup, libur lebaran, buka lagi tanggal 11 Nopember”.
Rencana minta obat lagi akhirnya tidak jadi. Padahal siang itu, kami
sekeluarga harus pergi ke Surabaya, mudik ke tempat nenek dan sanak
saudara yang lain.
Namun untungnya, saat tiba di rumah, ibu segera ingat, “Oh iya, ke
dokter Narno saja, waah kenapa nggak dari kemarin-kemarin ke dokter
narno.., ayo ke sana..!!”.
Akhirnya, jadilah, pagi itu masih sekitar jam setengah enam, kami
berangkat lagi ketempat praktek dokter Narno. “Ayo jangan siang-siang,
ntar keburu ramai loh, moga-moga aja dokternya nggak mudik”. Dan benar
saja, jam di HP masih belum menunjukkan pukul 6 namun suasana sudah ramai.
“Wah, kok sudah ramai begini mi, ntar bisa-bisa lama nih..??”, tanyaku
pada ibu saat turun dari kendaraan.
“Ah tenang saja, dokter ini, kalo menangani cepat kok, nggak sampai
lima menit dah selesai. Dah deh, kamu ntar pasti kaget saking
cepetnya.”, Jawab ibuku yang makin membuat saya semakin penasaran
Dari perawakan, dan penampilan mereka yang datang, memang kelihatan
kalau pada umumnya mereka bisa dibilang bukan dari golongan orang yang
mampu. Barangkali hanya kami berdua dan seorang ibu-ibu yang
berpakaian rapi di ruang tunggu. Meskipun sudah ramai, namun dokter
masih belum buka juga. “Masih nyiapkan obat”, begitu kata pak tua
berpeci hitam di antrian pertama.
Ruang tunggu pasien itu terkesan sederhana, sekitar 4×4 meter. Tidak
ada televisi ataupun galon air minum seperti sebelum-sebelumnya saya
ke dokter praktek, apalagi suster atau petugas yang mendata pasien.
Hanya kursi yang berjajar melingkari ruang tersebut. Di
tengah-tengahnya ada sebuah meja dengan beberapa brosur iklan dan
info-info dari produk obat tertentu diatasnya. Di dinding dan
jendelanya, tertempel stiker Pilkada. Ya, dokter ini juga pernah
dicalonkan menjadi wakil Bupati dalam Pilkada terakhir di kota kami,
namun akhirnya hanya berhasil memperoleh urutan ke 4. Kalah dengan
calon yang sudah berpengalaman sebagai “Mantan lurah”, begitu kata
orang-orang.
“Kalau dulu waktu mama kesini, waktu kakakmu masih SMA, disini masih
lima ribuan, nggak tahu kalau sekarang sudah naik, paling sekitar 10
ribu.”, ujar ibu saya di ruang tunggu.
“Ya mi, apalagi kan BBM juga dah beberapa kali naik, obat-obatan pun
juga naik tentu”, ujarku.
Sambil menunggu, ibu saya ngobrol dengan seorang pasien di sebelahnya.
Sementara saya sendiri, namun karena malas bicara, apalagi masih ada
sekitar 12 orang yang antri, “Lama..”, pikirku, kubaca buku yang
kubawa dari rumah. Tak sampai 15 menit, pintu sudah terbuka. Rambutnya
yang sudah mulai kelihatan memutih menunjukan sosok yang sudah berumur.
Bapak berpeci hitam yang tadi kemudian masuk, “Nah, ini nih, lihat
saja, nggak sampai lima menit dia pasti sudah keluar”, kata ibu saya.
Saya tidak terlalu memperhatikan karena kurang begitu percaya. Ah
masak sih secepat itu.
“Nah tuh kan..”, kata ibu saya. Saya langsung tertegun karena tak
sampai semenit, orang tadi sudah keluar dengan sebungkus obat di
tangannya. Kontan saya heran, baru pertama kali ini, saya melihat
orang berobat ke dokter sedemikian cepatnya.
Dasar sok mau tahu, saya pun coba-coba menghitung, berapa lama sih
waktu seorang pasien di dalam ruangan. Saat pasien ketiga masuk, Tit,
saya jalankan stopwatch di HP saya. Tit, saya hentikan stop watch saat
pasien tadi sudah keluar. Saya jadi tercengang melihat angka fantastis
di layar HP, Satu Menit Tiga Detik…!!!!. Pasien-pasien selanjutnya
semakin membuatku takjub. Hanya dua orang yang agak lama di dalam,
karena pasien tersebut minta disuntik.
“Wah kalau begini nggak sampai lama bisa selesai nih..”, ujarku pada
ibu. Dan benar saja, tak sampai lima belas menit kami pun sudah masuk
di dalam. Di ruang praktek dokter satu ini, tangan-tangannya cekatan,
Beliau memasang tensimeter, namun hanya dipompanya sebentar, saya
yakin ia memang tidak mengukur tekanan darah saya. Beliau lalu memijit
lenganku, sambil bertanya, “Sakitnya apa ini..??”.
“Sepertinya diare dok, kemarin sudah ke dokter lain, tapi belum
sembuh. Kalau disuntik gimana dok..??”, jawab ibu saya. Mendengar
kata-kata suntik, membuatku dag..dig..dug juga.
“Badannya lemes, nggak baik kalau disuntik, ini obat saja.”, Jawab
dokter kontan membuat saya lega. Meski laki-laki, namun terkadang
keder juga sih kalau membahas masalah satu ini.
Setelah meneyelesaikan pembayaran dan obat, kami pun keluar. Tak
sampai lima menit memang, dan di luar ruang praktek, saya hampir
tertawa juga. Ada juga ya, dokter seperti itu. Diagnosanya sangat
simpel, bahkan menurut saya itu bukan sebuah diagnosa. Apalagi
kejadian tentang tensimeter tersebut, barangkali hanya sekedar
psikologis bagi pasien bahwa dia memang benar-benar diperiksa. Apalagi
psikologinya orang desa, kalau nggak begitu, belum ke dokter katanya.
Ada-ada saja.
Dokter sunarno, bagi kota kami, barangkali lebih dari sekedar dokter.
Benar dugaan ibu saya, biayanya sekarang naik jadi 10.000, namun tetap
saja, biaya tersebut sudah tergolong murah, disaat banyak dokter umum
lain, mematok tarif mahal, Dokter praktek satu ini tetap dengan
pendiriannya. Tarif inilah yang membuat dokter ini tetap laris dan
disukai rakyat kecil, namun juga ini pula barangkali yang membuatnya
terkadang diprotes rekan-rekan seprofesinya.
Namun tak hanya itu, ditambah tangan dinginnya, yang konon katanya
maksimal 2 hari biasanya sudah sembuh. Entah benar tidaknya, namun
obat dari Pak Dokter ini belum sempat saya minum, namun saya memang
benar-benar sudah sembuh. Terakhir kali saya minum hanya sekali
sekitar keesokan harinya di tempat nenek, di surabaya. Saya jadi heran
dan bertanya-tanya, ini apa gara-gara habisdari pak Narno, ataukah
dari obat Dokter Ani sebelumnya…?? wallahu `alam yang jelas saya sembuh.
Tak banyak memang dokter yang seperti beliau. Ketika di satu sisi,
dokter seolah menjadi label yang “waah”, hanya orang-orang berada saja
yang mampu ke sana, Dokter Narno telah mengabdikan dirinya sebagai
Dokter Spesialis Rakyat Kecil. Membuatnya disukai dan dicintai banyak
kalangan, menjadi jujugan rakyat kecil yang sakit. Andaikan saja semua
dokter seperti beliau, barangkali Eko Prasetyo tak perlu menulis buku
“Orang Miskin Dilarang Sakit”. Ummat bisa lebih sehat, termasuk juga
kita berpikir sehat pula. Bahwa uang bukanlah segalanya, Namun
kebahagiaan lah karena bisa berbagi pada sesama.
Jika orang berpikir mungkinkah sosok seperti Dokter Sunarno ini bisa
kaya dengan lima ribu per pasien, maka jawabnya adalah Ya. Beliau
sudah naik haji, beliau punya rumah yang meski sederhana namun bagus,
beliau juga punya mobil kijang meski tahun 90-an, terparkir di
garasinya. Namun saya rasa bukan itu alasannya, andaikan ia ingin
lebih dari itu, saya rasa beliau pun mampu. Namun tentulah seberapa
besar uang tersebut, ia tidak akan mampu mengganikan kebahagiaan batin
untuk membantu mereka yang terpinggirkan. Kebahagiaan menghadapi
rakyat kecil, untuk membuat mereka mampu tersenyum puas dari sakitnya.
Barangkali bukan karena besarnya uang tersebut, namun karena berkah
dari rizkinya.
Wallahu’alam, Dalam hati saya berharap, semoga Allah memanjangkan
umurnya, meridloi pekerjaannya, memberkahi rezekinya. Dan semoga saja,
akan banyak lagi muncul dokter-dokter lain seperti beliau.
Dokter Sunarno, tarifnya sudah naik menjadi Rp.10.000, namun entah
kenapa kami masih tetap lebih suka menyebutnya sebagai Dokter lima
ribuan…
